IKHLAS DAN AMAL YANG DITERIMA ALLAH

Kaligrafi Allah
Di dalam Al Qur`an dan Hadits banyak disebutkan perintah untuk mengerjakan amal apapun harus didasarkan pada hati yang ikhlas semata-mata karena Allah SWT tidak karena yang lain. Contohnya seperti perintah unuk ikhlas dalam mengerjakan shalat yang terdapat dalam QS. Al-Mu’minun Ayat 1 dan 2 :

  قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ . اَلّذِيْنَ هُمْ فِى صَلَا تِهمْ خٰشِعُوْنَ ( المؤمنون : ١-٢ )
Artinya : “ Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya” ( QS. Al-Mu’minn : 1-2).

Kedudukan dan keutamaan ikhlas, ada disebutkan wajibnya ikhlas itu kaitannya dengan kemurnian tauhid dan meluruskan aqidah, dan ada yang kaitannya dengan kemurnian amal dari berbagai tujuan.

Yang pokok dari keutamaan ikhlas ialah, bahwa ikhlas merupakan syarat diterimanya amal. Sesungguhnya setiap amal harus mempunyai dua syarat yang tidak akan di terima di sisi Allah, kecuali dengan keduanya. Pertama. Niat dan ikhlas karena Allah. Kedua. Sesuai dengan Sunnah; yakni sesuai dengan KitabNya atau yang dijelaskan RasulNya dan sunnahnya. Jika salah satunya tidak terpenuhi, maka amalnya tersebut tidak bernilai shalih dan tertolak, sebagaimana hal ini ditunjukan dalam firmanNya:

 فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاءَ رَبِّه فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صٰلِحاً وَلاَ يُشْرِكْ بِعِباَدَتِه أَحَداً ( الكهف : ١١٠ ) 

Artinya : “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah dia mengerjakan amal shalih dan janganlah dia mempersekutukan seorangpun dengan Rabb- nya”. (Al Kahfi : 110).

Di dalam ayat ini, Allah memerintahkan agar menjadikan amal itu bernilai shalih, yaitu sesuai dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, kemudian Dia memerintahkan agar orang yang mengerjakan amal shalih itu mengikhlaskan niatnya karena Allah semata, tidak menghendaki selainNya.

Al Hafizh Ibnu Katsir berkata di dalam kitab tafsir-nya : “Inilah dua landasan amalan yang diterima, ikhlas karena Allah dan sesuai dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ”.

Dari Umamah, ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam seraya berkata,”Bagaimanakah pendapatmu (tentang) seseorang yang berperang demi mencari upah dan sanjungan, apa yang diperolehnya?” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,”Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Orang itu mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali, dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa salalm selalu menjawab, orang itu tidak mendapatkan apa-apa (tidak mendapatkan ganjaran), kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

  اِنَّ اللهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلّاَ مَا كاَنَ لَهٗ خٰلِصاً وَابْتَغِى وَجْهَه (رواه النّساء )

Artinya : "Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menerima amal perbuatan, kecuali yang ikhlas dan dimaksudkan (dengan amal perbuatan itu) mencari wajah Allah". (HR Nasa-i).

Akhir kalam yang dapat disimpulkan dari uraian di atas, bahwasanya setiap amal yang kita kerjakan harus didasari niat dan keihklasan, semata mencari dan mengharap Ridlo Allah SWT. Ikhlas merupakan syarat diterima serta diqobulnya amal yang dikerjakan . dan buah keihklasan sangatlah tidak ternilai harganya dari sesuatu amal yang dilakukan. Hanya pahala dan keridloan-Nyalah yang akan diraih berupa Rahmat, Kasihsayang Karunia, Inayah serta Hidayah dari Allah SWT. Amin !.
SHARE

Milan Tomic

Hi. I’m Designer of Blog Magic. I’m CEO/Founder of ThemeXpose. I’m Creative Art Director, Web Designer, UI/UX Designer, Interaction Designer, Industrial Designer, Web Developer, Business Enthusiast, StartUp Enthusiast, Speaker, Writer and Photographer. Inspired to make things looks better.

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Model-Model Pembelajaran Yang Sesuai Dengan Kurikulum 2013

     Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata ...