Perlu difahami terlebih dahulu bahwa ada salah satu teori dalam Psikologi Pendidikan yang menyatakan yang bunyinya kurang lebih seperti ini: “Perilaku seseorang merupakan fungsi dari watak (kognitif, afektif, dan psikomotor) dan karakteristik lingkungan saat perilaku atau perbuatan ditampilkan”. Jadi tindakan atau perbuatan seseorang ditentukan oleh watak yang ada dalam dirinya yang berakumulasi dengan kondisi lingkungan dimana seseorang itu hidup.
Berdasarka pernyataan tersebut di atas, salah satu kesimpulan yang dapat dikemukakan terutama dalam kaitannya dengan langkah penilaian afektif. Bahwa sebetulnya kita bisa melakukan rekayasa atau usaha yang sistematis untuk membentuk watak dan membangkitkan watak prilaku sesorang dengan menanamkan nilai-nilai moral, akhlah budaya dan agama agar tertanam dalam diri seseorang watak prilaku yang positif. Terutama dalam hubungannya dengan menanamkan semangat minat serta motivasi belajar siswa. Tentunya juga rekayasa dan usaha yang dipadukan dengan menciptakan lingkungan yang dapat mendukung tumbuhnya semangat, minat serta motivasi belajar.
Ada dua metode yang dapat dugunakan dalam melakukan penilaian ranah afektif, yaitu: "metode observasi" dan "metode laporan diri". Metode observasi didasarkan pada anggapan bahwa karateristik afektif dapat dilihat dari perilaku atau perbuatan yang ditampilkan dan/atau merupakan reaksi psikologi dan ini bisa dilihat dan diamati. Serta Metode laporan diri didasarkan pada anggapan bahwa yang mengetahui keadaan afektif seseorang adalah dirinya sendiri. Namun hal ini menuntut kejujuran dalam mengungkap karakteristik afektif diri sendiri.
Dalam hubungannya dengan penilaian ranah afektif, maka perlu disusun Instrumen penilaian afektif yang meliputi lembar pengamatan sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral. Karenanya penting kita mengetahui terlebih dahulu tentang langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan dalam melaksanakan penilaian ranah afektif.
Ada 11 (sebelas) langkah dalam mengembangkan instrumen penilaian ranah afektif, yaitu sebagai berikut :
Berdasarka pernyataan tersebut di atas, salah satu kesimpulan yang dapat dikemukakan terutama dalam kaitannya dengan langkah penilaian afektif. Bahwa sebetulnya kita bisa melakukan rekayasa atau usaha yang sistematis untuk membentuk watak dan membangkitkan watak prilaku sesorang dengan menanamkan nilai-nilai moral, akhlah budaya dan agama agar tertanam dalam diri seseorang watak prilaku yang positif. Terutama dalam hubungannya dengan menanamkan semangat minat serta motivasi belajar siswa. Tentunya juga rekayasa dan usaha yang dipadukan dengan menciptakan lingkungan yang dapat mendukung tumbuhnya semangat, minat serta motivasi belajar.
Ada dua metode yang dapat dugunakan dalam melakukan penilaian ranah afektif, yaitu: "metode observasi" dan "metode laporan diri". Metode observasi didasarkan pada anggapan bahwa karateristik afektif dapat dilihat dari perilaku atau perbuatan yang ditampilkan dan/atau merupakan reaksi psikologi dan ini bisa dilihat dan diamati. Serta Metode laporan diri didasarkan pada anggapan bahwa yang mengetahui keadaan afektif seseorang adalah dirinya sendiri. Namun hal ini menuntut kejujuran dalam mengungkap karakteristik afektif diri sendiri.
Dalam hubungannya dengan penilaian ranah afektif, maka perlu disusun Instrumen penilaian afektif yang meliputi lembar pengamatan sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral. Karenanya penting kita mengetahui terlebih dahulu tentang langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan dalam melaksanakan penilaian ranah afektif.
Ada 11 (sebelas) langkah dalam mengembangkan instrumen penilaian ranah afektif, yaitu sebagai berikut :
- Menentukan spesifikasi instrumen
- Menulis instrumen
- Menentukan skala instrumen
- Menentukan pedoman penskoran
- Menelaah instrumen
- Merakit instrumen
- Melakukan ujicoba
- Menganalisis hasil ujicoba
- Memperbaiki instrumen
- Melaksanakan pengukuran
- Menafsirkan hasil pengukuran
0 komentar:
Posting Komentar