Dalam praktek kegiatan belajar mengajar yang dilakukan seorang guru, terutama guru Pendidikan Agama Islam di sekolah menengah pertama maupun menengah atas. Kadang atau bahkan sering mendapatkan beberapa orang siswa yang tidak mampu membaca A-Quran dengan lancar walaupun sebetulnya mereka sudah tahu dan mengenal terhadap huruf-huruf hijaiyyah. tetapi memiliki keterbatasan dalam merangkai bacaan huruf Al-Quran maupun Al-Hadits.
Hal tersebut mungkin dikarenakan latar belakang pendidikan agama mereka yang kurang diperhatikan oleh orang tuanya didalam keluarga. Disamping karena kemampuan belajar membaca huruf Al-Quran mereka (siswa) yang kurang, atau bahkan minimnya keinginan (minat), motivasi dan ketertarikan mereka terhadap membaca Al-Quran. Padahal kalau
diperhatikan dari segi tingkat kemampuan membaca huruf latinnya, mereka boleh dikatakan cukup
lancar dan fasih. Keadaan inilah yang sering dijumpai serta menjadi problema tersendiri bagi seorang guru Pendidikan Agama Islam di sekolah.
Hakikat pendidikan dan pembelajaran agama Islam yang dilakukan di sekolah tidak akan lepas dari apa yang disebut dengan dalil Naqly, baik itu Al-Quran maupun Al-Hadits. Karena dari Al-Quran dan Haditslah sumber utama materi pembelajaran agama Islam. Dan bahkan Al-Quran dan Al-Hadits tersebut menjadi bagian pokok dari bidang materi yang diajarkan dalam mata pelajaran Agama Islam di sekolah.
Oleh karena itu barangkali “metode” transliterasi ini dapat membantu kita para praktisi pendidikan terutama bagi guru-guru Pendidikan Agama Islam dalam memecahkan salah satu masalah dalam pembelajaran agama di dalam kelas.
Namun perlu diketahui sebelumnya, dalam penggunaan “metode” Transliterasi ini saya katakan sifatnya hanyalah “rescue” saja. Artinya pemecahan masalah yang sifatnya mendesak dan penting yang hanya dilakukan pada saat itu dan pada materi pelajaran yang mengandung materi bacaan Al-Quran dan Al-Hadits. Juga dengan menggunakan “metode” Tranliterasi tersebut tidak akan dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam membaca Al-Quran dan Hadits secara menyeluruh tetapi hanya disunakan pada objek dan ruang lingkup materi pelajaran yang diajarkan pada saat itu.
Apalagi pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas memiliki keterbatasan dari segi waktu yang hanya 2 jam pelajaran setiap minggunya. Sedangkan kita dituntut sebagaimana tercantum dalam tujuan pembelajaran terutama dalam indikator pembelajaran. siswa dapat membaca bahkan “hapal” bacaan ayat-ayat Al-Quran maupun Al-Hadits (kapalan).
Akan tetapi dari apa yang dirasakan saya dalam praktek pembelajaran tertentu di kelas boleh dikatak cukup membantu terutama dalam materi pembelajaran yang mengandung bacaan dan hafalan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits sebagaimana diuraikan di atas.
Bagaimana prakteknya..?, Insya Allah barangkali berkenan akan diuraikan dalam postingan selanjutnya. Kalau tidak, bagi Bapak-bapak ataupun Ibu guru Pendidikan Agama Islam (PAI) tidaklah asing lagi dengan apa yang disebut transliterasi huruf Arab ke dalam huruf latin. Bahkan sekarang banyak buku-buku paket yang mencantumkan bacaan A-Quran ataupun Al-Hadits dalam bentuk transliterasinya. Tinggal bagaimana stresingnya dan pemanfaatan fasilitas tersebut seoptimal mungkin dalam praktek pembelajaran di kelas.
Dan yang lebih penting lagi barangkali ajaklah atau perintahkanlah, dan berikan penekanan kepada siswa agar betul-betul memanfaatkan pendidikan agama yang ada di masyarakat misalnya berupa pengajian-pengajian ba’da magrib. Atau barangkali penting juga untuk melakukan pendekatan khusus kepada orang tua siswa kalau boleh melakukan Home visi dan berdialog dengan “mauidhoh hasanah” untuk mengajak para orang tua siswa agar betul-betul memperhatikan, memasukan serta mengawasi pengajian anak-anak di sekolah Diniyah atau Pesantren(santri Kalong) yang ada di lingkungannya. Mengingat besarnya manfaat serta fungsi sekolah Diniyah dan pendidikan Pesantren terutama dalam memberantas buta hurup Al-Quran.
Hal tersebut mungkin dikarenakan latar belakang pendidikan agama mereka yang kurang diperhatikan oleh orang tuanya didalam keluarga. Disamping karena kemampuan belajar membaca huruf Al-Quran mereka (siswa) yang kurang, atau bahkan minimnya keinginan (minat), motivasi dan ketertarikan mereka terhadap membaca Al-Quran. Padahal kalau
diperhatikan dari segi tingkat kemampuan membaca huruf latinnya, mereka boleh dikatakan cukup
lancar dan fasih. Keadaan inilah yang sering dijumpai serta menjadi problema tersendiri bagi seorang guru Pendidikan Agama Islam di sekolah.
Hakikat pendidikan dan pembelajaran agama Islam yang dilakukan di sekolah tidak akan lepas dari apa yang disebut dengan dalil Naqly, baik itu Al-Quran maupun Al-Hadits. Karena dari Al-Quran dan Haditslah sumber utama materi pembelajaran agama Islam. Dan bahkan Al-Quran dan Al-Hadits tersebut menjadi bagian pokok dari bidang materi yang diajarkan dalam mata pelajaran Agama Islam di sekolah.
Oleh karena itu barangkali “metode” transliterasi ini dapat membantu kita para praktisi pendidikan terutama bagi guru-guru Pendidikan Agama Islam dalam memecahkan salah satu masalah dalam pembelajaran agama di dalam kelas.
Namun perlu diketahui sebelumnya, dalam penggunaan “metode” Transliterasi ini saya katakan sifatnya hanyalah “rescue” saja. Artinya pemecahan masalah yang sifatnya mendesak dan penting yang hanya dilakukan pada saat itu dan pada materi pelajaran yang mengandung materi bacaan Al-Quran dan Al-Hadits. Juga dengan menggunakan “metode” Tranliterasi tersebut tidak akan dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam membaca Al-Quran dan Hadits secara menyeluruh tetapi hanya disunakan pada objek dan ruang lingkup materi pelajaran yang diajarkan pada saat itu.
Apalagi pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas memiliki keterbatasan dari segi waktu yang hanya 2 jam pelajaran setiap minggunya. Sedangkan kita dituntut sebagaimana tercantum dalam tujuan pembelajaran terutama dalam indikator pembelajaran. siswa dapat membaca bahkan “hapal” bacaan ayat-ayat Al-Quran maupun Al-Hadits (kapalan).
Akan tetapi dari apa yang dirasakan saya dalam praktek pembelajaran tertentu di kelas boleh dikatak cukup membantu terutama dalam materi pembelajaran yang mengandung bacaan dan hafalan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits sebagaimana diuraikan di atas.
Bagaimana prakteknya..?, Insya Allah barangkali berkenan akan diuraikan dalam postingan selanjutnya. Kalau tidak, bagi Bapak-bapak ataupun Ibu guru Pendidikan Agama Islam (PAI) tidaklah asing lagi dengan apa yang disebut transliterasi huruf Arab ke dalam huruf latin. Bahkan sekarang banyak buku-buku paket yang mencantumkan bacaan A-Quran ataupun Al-Hadits dalam bentuk transliterasinya. Tinggal bagaimana stresingnya dan pemanfaatan fasilitas tersebut seoptimal mungkin dalam praktek pembelajaran di kelas.
Dan yang lebih penting lagi barangkali ajaklah atau perintahkanlah, dan berikan penekanan kepada siswa agar betul-betul memanfaatkan pendidikan agama yang ada di masyarakat misalnya berupa pengajian-pengajian ba’da magrib. Atau barangkali penting juga untuk melakukan pendekatan khusus kepada orang tua siswa kalau boleh melakukan Home visi dan berdialog dengan “mauidhoh hasanah” untuk mengajak para orang tua siswa agar betul-betul memperhatikan, memasukan serta mengawasi pengajian anak-anak di sekolah Diniyah atau Pesantren(santri Kalong) yang ada di lingkungannya. Mengingat besarnya manfaat serta fungsi sekolah Diniyah dan pendidikan Pesantren terutama dalam memberantas buta hurup Al-Quran.

0 komentar:
Posting Komentar